![]() |
| Sebagian buku yang sudah go publik karya Suraji |
Setiap tanggal 23 April, dunia memperingati World Book Day sebagai momentum untuk meneguhkan kembali pentingnya buku dalam kehidupan manusia. Namun di tengah derasnya arus digitalisasi, peringatan ini terasa semakin relevan—bahkan mendesak. Buku, yang dahulu menjadi jendela utama pengetahuan, kini perlahan mulai tersisih oleh kehadiran gadget, media sosial, dan informasi instan berbasis internet.
Fenomena ini tidak sepenuhnya salah, tetapi perlu disikapi dengan bijak. Kemajuan teknologi memang membuka akses informasi tanpa batas, namun tidak selalu menjamin kedalaman pemahaman. Buku tetap memiliki keunggulan yang sulit tergantikan: kedalaman analisis, ketajaman perspektif, serta kemampuan membangun nalar yang sistematis dan logis. Di sinilah pentingnya menjadikan Hari Buku Sedunia sebagai titik refleksi—apakah kita masih memberi ruang yang layak bagi buku dalam kehidupan kita?
Literasi bukan sekadar kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan memahami, menganalisis, dan menciptakan gagasan. Buku menjadi fondasi utama dalam proses tersebut. Dengan membaca buku, seseorang tidak hanya memperoleh informasi, tetapi juga dilatih untuk berpikir kritis, melihat berbagai sudut pandang, serta membangun argumentasi yang kuat. Tanpa budaya membaca buku yang baik, kualitas literasi masyarakat akan cenderung dangkal dan mudah terombang-ambing oleh informasi yang belum tentu benar.
Lebih dari itu, buku juga menjadi sumber inspirasi untuk menulis. Membaca dan menulis adalah dua sisi yang tidak terpisahkan. Dari buku, lahir ide-ide segar, refleksi mendalam, hingga gagasan besar yang mampu mengubah peradaban. Maka, momentum Hari Buku Sedunia seharusnya tidak berhenti pada ajakan membaca, tetapi juga mendorong lahirnya karya-karya baru dari tangan-tangan kreatif.
Dalam konteks ini, hadirnya karya-karya terbaru menjadi bagian penting dari gerakan literasi. Salah satunya adalah buku berjudul Gerakan Filantropi Muhammadiyah yang turut diselesaikan bertepatan dengan momentum Hari Buku Sedunia tahun ini. Buku ini semakin istimewa dengan kata pengantar dari Sukadiono, yang memberikan perspektif strategis dalam melihat gerakan keilmuan dan sosial.
Karya ini melanjutkan tradisi intelektual yang sebelumnya telah dihadirkan melalui berbagai buku, seperti Guru sebagai Arsitek Peradaban, Teori Belajar Konstruktivisme dan Deep Learning, serta buku tentang Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Tema-tema tersebut menunjukkan bahwa dunia akademik saat ini semakin bergerak menuju pendekatan integratif, di mana metode penelitian kombinasi menjadi pilihan utama bagi banyak akademisi, mahasiswa, dan peneliti dalam menjawab kompleksitas persoalan zaman.
Hal ini sekaligus menegaskan bahwa buku bukan hanya sekadar media bacaan, tetapi juga instrumen penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan lintas disiplin. Buku mampu menjembatani teori dan praktik, menghubungkan gagasan dengan realitas, serta menghadirkan solusi atas berbagai persoalan kehidupan—baik dalam bidang pendidikan, sosial, maupun lingkungan.
Oleh karena itu, Hari Buku Sedunia seharusnya menjadi gerakan kolektif. Gerakan untuk kembali membaca secara mendalam, menulis secara bermakna, dan mengimplementasikan nilai-nilai yang diperoleh dari buku dalam kehidupan sehari-hari. Buku yang kita pilih pun haruslah buku yang produktif—yang tidak hanya memberi informasi, tetapi juga membentuk karakter, memperluas wawasan, dan mendorong perubahan ke arah yang lebih baik.
Di tengah dunia yang serba cepat dan instan, buku mengajarkan kita untuk berhenti sejenak, berpikir lebih dalam, dan memahami kehidupan dengan lebih utuh. Maka, mari jadikan momentum ini sebagai titik balik: mendekatkan kembali diri kita dengan buku, menghidupkan kembali budaya literasi, dan menjadikan membaca serta menulis sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita.
Karena pada akhirnya, peradaban besar selalu lahir dari mereka yang akrab dengan buku.
