Tradisi Tellasàn Topa’ di Madura, Kearifan Lokal yang Menguatkan Silaturahmi Pasca Idul Fitri


Gambar animasi Tellasàn topa' (lebaran ketupat) di lingkungan SDN Jambu 2

Bangkalan – Masyarakat Madura memiliki tradisi khas pasca Hari Raya Idul Fitri yang dikenal dengan sebutan Tellasàn Topa’, yaitu perayaan yang dilaksanakan sekitar tujuh hari setelah Idul Fitri. Tradisi ini menjadi bagian dari kearifan lokal yang terus dilestarikan secara turun-temurun dan selalu dinanti oleh masyarakat dengan penuh kegembiraan.


Dalam perayaan Tellasàn Topa’, masyarakat Madura umumnya memasak berbagai hidangan berbahan dasar ketupat atau lontong (topa’) dengan beragam variasi masakan. Di antaranya terdapat soto topa’, topa’ ladà, topa’ kua, serta berbagai menu khas lainnya. Selain itu, masyarakat juga membuat lepet, yaitu makanan dari ketan yang dibungkus rapi dengan daun dan dililit, yang menjadi pelengkap hidangan dalam tradisi tersebut.


Tradisi Tellasàn Topa’ tidak hanya sekadar kegiatan memasak dan makan bersama, tetapi juga memiliki makna sosial yang sangat kuat. Momentum ini menjadi ajang untuk mempererat silaturahmi, saling mengunjungi antar keluarga, kerabat, tetangga, maupun sahabat. Suasana kebersamaan yang terjalin setelah menjalani ibadah puasa di bulan Ramadan menjadikan perayaan ini terasa lebih hangat dan penuh kebahagiaan.


Selain itu, Tellasàn Topa’ juga menjadi bagian penting dalam menjaga nilai kearifan lokal, memperkuat budaya masyarakat, serta mengikat persatuan dan persaudaraan di tengah kehidupan sosial. Tradisi ini menunjukkan bahwa budaya lokal tetap hidup dan relevan dalam kehidupan masyarakat modern.


Di tengah suasana perayaan tersebut, aktivitas pelayanan publik dan pendidikan tetap berjalan sebagaimana mestinya. Para Aparatur Sipil Negara (ASN), termasuk guru, tetap melaksanakan tugas meskipun sebagian siswa masih dalam masa libur pasca Lebaran.


Hal yang sama juga terlihat di SDN Jambu 2 Burneh, di mana keluarga besar sekolah turut merasakan suasana Tellasàn Topa’ dengan tetap menjaga semangat kebersamaan dan silaturahmi dengan masyarakat sekitar.


Kepala SDN Jambu 2 Burneh, Suraji, M.Pd, menyampaikan bahwa tradisi Tellasàn Topa’ merupakan bagian dari kekayaan budaya yang harus dijaga.

“Tradisi Tellasàn Topa’ bukan hanya tentang makanan, tetapi tentang kebersamaan, silaturahmi, dan menjaga kearifan lokal. Di lingkungan sekolah, kami tetap melaksanakan tugas pelayanan pendidikan, namun nilai kebersamaan dengan masyarakat juga tetap terjalin dengan baik,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa hubungan harmonis antara satuan pendidikan dan masyarakat menjadi kunci terciptanya lingkungan pendidikan yang kondusif.


Dengan terus dilestarikannya tradisi Tellasàn Topa’, diharapkan nilai-nilai budaya, persaudaraan, dan kebersamaan masyarakat Madura tetap terjaga dari generasi ke generasi.

Pages